Postingan

Meraba Prosesi Semana Santa di Larantuka

Gambar
Sebelum aku terbang ke Flores, aku sempat googling tempat-tempat kece di Larantuka. Ketika kuketik “Wisata di Larantuka” lalu muncul pencarian wisata religi. Wah ternyata Larantuka dijuluki sebagai Vatikan-nya Indonesia karena perayaan saat menyambut Paskah disana menjadi tradisi turun menurun yang selalu dipenuhi oleh peziarah. Aku punya kesempatan singkat untuk berkeliling di kota kecil di bawah kaki Gunung Ile Mandiri tersebut sebelum meninggalkan Flores Timur, tepat hari terakhir sebelum terbang ke Kupang. Larantuka merupakan peninggalan Kerajaan Katolik yang dipengaruhi oleh portugis,  kita dapat sangat mudah menemukan kapela – kapela bergaya portugis di pinggir jalan utama dengan jarak antar kapela tidak terlalu jauh, lalu ada juga taman doa di pinggir laut dengan perhentian jalan salib maupun Gua Maria di tengah kota serta berbagai tempat berdoa lainnya. Kapela Tuan Ana salah satu tempat prosesi Semana Santa Aku menyusuri jejak perarakan Semana Santa di Larant...

Budget pesiar ke Flores

Yuhuuu, Indonesia bukan hanya Bali saja loh, ada banyak bahkan sangat banyak pulau kece tersebar di seluruh Indonesia salah satunya Pulau Flores, pulau ini menawarkan pantai-pantai cantik yang berwarna – warni, serta kampung adat yang sangat unik. Bulan lalu dalam rangka menepati janji aku mendarat disana, sangat menyenangkan sekali berada di salah satu pulau di Indonesia Timur tersebut. Supaya kalian – kalian yang membaca tertular bepesiar ke Flores, sini aku kasih contekan budgetnya. Perjalanan dihitung dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, langsung aja disimak yak. Total pengeluaran pesiar di Pulau Flores adalah IDR 6.049.690 pada periode perjalanan Agustus 2018 selama 10 hari 9 malam, supaya memudahkan temen-temen dalam mengatur keuangan berikut detilnya kalau sesuai dengan kantong yuk mari jangan ditunda, booking tiket pesawat sekarang juga, kalau ada pertanyaan mengenai jalan di Flores dengan senang hati akan dijawab sepengetahuanku silakan hubungi via DM ig atau email ya, se...

Demi kamu, aku kembali ke Pulau Flores

Gambar
Jangan pake baper, cerita kali ini tidak se-romantis judulnya kok, haha Seharusnya November lalu sebelum ke Labuan Bajo, aku mampir dulu ke rumah sahabatku di Pulau Adonara kemudian barengan ikut overland trip dari Ende ke Labuan Bajo tapi karena saat itu dia baru masuk bekerja maka tidak memungkinkan mengambil cuti panjang, dan saat itu penerbanganku dari Banjarmasin ke Ende dibatalkan karena Bandara Denpasar ditutup sementara sebab erupsi Gunung Agung (kalau ingat ini serius jadi syediihh, hiks).  Nah Agustus lalu aku menepati janji yang tertunda (kata papahku, janji adalah hutang jadi mesti dilunasi) dengan menempuh perjalanan darat dan udara yang panjang ke Pulau Flores. Iya, demi menepati janji yang tertunda aku kembali menginjak Pulau Flores, cihuuuyyy Berhubung kali ini aku bercita-cita menginjak Pulau Flores dari timur ke barat, maka aku harus pintar memangkas pengeluaran (maklum yah, kita tukang jalan pas-pasan :D). Demi irit, aku pun memasak sesubuhan demi bekal makan si...

Berburu pantai di Adonara

Gambar
Siapa yang tidak kenal dengan Pulau Flores? Kalau dengar kata Flores pasti langsung ingat dengan Labuan Bajo dan kopi Bajawa. Padahal Flores itu amat luas dan Flores Timur tidak kalah cantik loh. Perjalananku menepati janji membawaku ke Pulau Adonara, salah satu pulau di wilayah Kabupaten Flores Timur, sekitar 15 menit dari Pelabuhan Larantuka menuju Pelabuhan Tobilota dengan kapal motor. Pulau ini memang belum popular di kalangan para wisatawan, tapi justru itulah berita bagusnya, kita akan disuguhi tempat-tempat kece yang belum terjamah banyak orang, wah tidak perlu rebutan tempat, tempat foto, haha Perjalanan dengan kapal motor menuju Pulau Adonara sungguh menyenangkan, aku teringat saat di Labuan Bajo, laut biru yang luas dengan dihiasi pulau dan gunung, ah sungguh menyegarkan, lelahku langsung rontok. Pulau Adonara ini adalah salah satu wilayah Flores yang memiliki pantai kece, sepanjang jalan dari pelabuhan ke rumah mataku dimanjakan dengan pantai cantik dengan laut biru, wa...

Bangkok: Wat Pho dan Wat Arun

Gambar
Tanpa pikir panjang, plus matahari semakin tinggi. Kami lanjut menuju Wat Pho, tapi tidak satu pun petunjuk jalan terlihat untuk menuntun kami lalu kami putuskan bertanya kepada polisi wisata yang berjaga, ternyata kami salah arah, cuss langsung balik arah. Setelah sekitar 15 menit berjalan mengelilingi tembok pembatas istana yang kokoh serta menyusuri trotoar yang bersih, akhirnya tiba juga di Kuil Buddha tertua di Bangkok itu. Untungnya antrian tidak mengular, tiket yang kita beli sudah include air mineral dingin duh senangnya dapat gratisan, hehe. Jendela yang megah di komplek Wat Pho Kuil ini buka dari pukul 08.00 sampai 18.30, fuiih syukurlah masih panjang jadi kami masih ada waktu berkeliling. Meninggalkan loket, kita akan disambut dengan kuil kecil dan beberapa wisatawan akan berhenti untuk berdoa, sstttt jalan pelan-pelan ya saat lewat agar tidak mengganggu. Setelah melewati kuil, pada sisi sebelah kanan kita akan melihat bangunan yang paling tersohor di tempat ini ...

Susahnya nyari makanan halal di Asiatique The Riverfront

Gambar
Sepanjang perjalanan, a ku sibuk mengamati sekelompok “Mbak” cantik yang duduk di depan, kegirangan dan luar biasa hebohnya. Karena keasikan mengamati mereka jadi tidak mengamati jam, dari kejauhan sudah nampak bianglala besar yang bercahaya di tepi sungai dan petugas pun segera memberikan informasi bahwa boat akan tiba di Asiatique.  Bukannya langsung nyari makan, kami malah berfoto dulu berlatarkan keglamoran Asiatique dengan lampunya yang kelap-kelip. Panorama di seberang mall terbuka ala pasar adalah sisi lain Kota Bangkok dengan gedung-gedung tinggi khas perkotaan, pelataran samping Asiatique tempat favorit untuk mengambil foto (dan tempat pacaran) . Lovers lock hag at Asiatique Kami semua merasa terselamatkan berada di Asiatique karena sejauh mata memandang banyak pedagang makanan, tapi ya jangan sesekali jajan di restonya bagi budget traveler itu sama aja bunuh d ompet , mahal! Jadi kami tau diri mencari pedagang gerobak, kami mencari yang harganya paling murah, “ ...

Thailand: Perjuangan berakhir geli demi buah tangan

Gambar
Seperti biasanya kami terbangun ketika hari sudah terang dan sekitar hostel masih sepi-sepi saja tuh. Matahari di Thailand khususnya Bangkok serba lambat, baik terbit maupun tenggelam. Aurel dan Muna aja Shalat Subuhnya sekitar pukul 0 6 .00 gitu. Salah satu alasan kami bangun selalu kesiangan ya karena nunggu si matahari, pukul 06.00 aja masih agak gelap jadi memaksa kami tidur lagi. Waktu nyawa udah terkumpul semua, aku bertanya sama yang lain hari ini kemana ternyata belum diputuskan tempat ngebolang selanjutnya, rupanya tadi malam pas aku pamit tidur, mereka juga nyusul tidur, wkwkwkkwk. Baiklah kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam berdiskusi tak terarah untuk menentukan tempat selanjutnya, awalnya kami mau memanfaatkan tiket gratis dari pembelian tiket Grand Palace (cerita keliling Grand Palace DISINI) kemarin tapi kami urungkan karena tempatnya terlalu jauh dan diluar Bangkok jadi jarang ada sarana umum yang bisa ditumpangi kesana. Oiya, tike t Grand Palace itu include ti...