Akibat kelelahan kebanyakan berjalan kaki, hari kedua
kami semua pada malas-malasan dan berangkat dari hostel kesiangan, kira-kira
pukul 09.00 waktu setempat kami baru turun dari hostel. Seperti hari
sebelumnya, kami menghampiri recepsionist untuk minta antarkan ke jalan raya besar, namun sebelum berangkat
si bapak menghampiri kami dengan ramah dan meminta maaf atas kesalahpahaman
yang terjadi tadi malam (duh, pagi-pagi malah diingetin, kan bete). Bapak
tersebut kebetulan bahasa inggrisnya lumayan jadi kami bisa berkomunikasi
dengan baik walaupun agak terbata-bata tapi nyambung kok. Si bapak bertanya
kami akan pergi kemana, kami pun dengan semangat menjawab “Grand Palace”. Kemudian si bapak menjelaskan cara hemat mencapai
tempat tersebut, kami disarankan untuk naik bus reguler lalu kami pun tergiur
dengan harga terjangkau, haha. Hari itu si bapak sangat membantu, beliau
memberikan note bertuliskan bahasa Thai dan inggris untuk diberikan kepada
kondektur bus,
kali ini dipastikan kami tidak akan salah masuk bus maupun roaming saat menjelaskan tujuan. Cihuuuyyy
 |
Tulisan bilingual dari Bapak resepsionis |
Perjalanan kali ini agak panjang jadi kami sepakat untuk makan dulu,
tidak mau mengulang hari kemarin yang terlambat makan karena bingung mau makan dimana.
Kebetulan kami melewati beberapa pedagang makanan di pinggir jalan namun sebelum memutuskan makan
dimana, kami harus dan wajib bertanya apa yang dijual apakah ada babi atau
tidak karena 2 orang teman kami muslim. Setelah beberapa saat berjalan kami
akhirnya menemukan pedangan mie yang menjual mie dengan ayam saja. Ada beberapa jenis mie
yang di menu,
kami semua memilih mie yang kecil, kurasa kudapan ini adalah mie ayam versi
Thailand tapi mie-nya pake mie beras dan kuahnya beraroma rempahan. Rasanya enak kok tapi lama kelamaan kok agak pait, ternyata sayurnya
pait tapi berhubung lapar, hampir kuhabiskan semua tapi sayurnya kutinggal dan juga lalapanya yaitu touge, daun bawang serta sayur hijau mirip bayam.
 |
Thai Chicken Noodle A.K.AGuay Teow Rhua |
Usai makan
kami bergegas menuju perhentian bus tepat di bawah Stasiun On Nut. Ketika
melihat bus bernomor dua, kami berlari kecil masuk ke dalam bus dan Aurel
langsung menyerahkan note kemudian ibu kondekturnya mengangguk, pertanda bus
yang kami tumpangi benar menuju daerah istana raja, yess gak ada drama nyasar pagi ini. Memang
benar kata pepatah, ada harga ada barang, benar saja murah tapi kami harus rela
berlama-lama di dalam bus tanpa jendela. Setelah perjalanan asoy dengan bus
tanpa jendela selama kurang lebih 1 jam, akhirnya tiba juga ke tujuan eh tapi
kami harus berjalan kaki dulu sekitar 15 menit untuk menemukan gerbang utama Grand Palace yang luar biasa luasnya. Sesuai dengan blog yang kubaca, biasanya ada
modus para pengemudi tuk tuk di sekitar komplek istana, mereka menghampiri
wisatawan dan mengatakan kalau Grand
Palace tutup lalu menawarkan untuk mengantarkan wisatawan ke tempat lain. Bule
di depan kami hampir kena modus tapi untung saja temannya sigap mengajak temannya pergi. Kami sih
bersyukur karena muka 11 12 sama warga Thailand jadi tidak satupun yang
ngemodusin kami. Haha
 |
Bangunan di luar venue utama Grand Palace |
Setelah menemukan gerbang utama Grand Palace, kami pun ikut nyempil untuk antri, et dah busyeeett
puanjaaang kali antrinya tapi mau gimana lagi, berhubung sudah niat kesini kami
tetap maju terus pantang mundur. Berhubung hari sudah mulai siang, kami
buru-buru masuk ke Grand Palace
tentunya setelah mengantongi tiket ya, syukurlah sebelum berkunjung kesini kami
sudah cari-cari informasi dulu, tidak seorang pun dari kami yang menggunakan
pakaian kurang bahan jadi tidak perlu berlama-lama antri pinjam kain jadi
mendapatkan tiket cukup cepat. Duh, kami harus rela berbagi oksigen dengan
banyak orang, Grand Palace dibanjiri
manusia hari itu padahal siang hari
dengan terik matahari yang menyengat. Berhubung ikon
utamanya adalah Temple of The Emerald Buddha lagi bejubel manusia jadi kami memutuskan berkeliling
dulu. Grand Palace merupakan komplek
istana dengan arsitektur yang megah, kami akan terkagum-kagum dengan detil
arsitektur khas Thailand yang didominasi warna kuning emas tapi sayang sekali
saat kami berkunjung banyak bangunan yang sedang direnovasi, hiks.
 |
Empat budget traveler berlatarkan bangunan yang di renovasi |
Saat itu matahari lagi manja-manjanya, kami pun menepi
ke pinggir ternyata ada lukisan di dinding tembok yang mengelilingi tempat utama Grand Palace. Awalnya kami tidak paham lukisan
tersebut bercerita tentang apa karena kami perginya tanpa guide, tapi kami
tidak habis akal, aku mepetin rombongan tour dengan guidenya yang lagi menjelaskan
cerita lukisan dengan bahasa inggris, ohh ternyata lukisan tersebut bercerita tentang Rama dan Shinta versi
Thailand. Berhubung sejak tadi kami terus berjalan, akhirnya kami duduk sejenak
sambil menghabiskan buah potong yang kami beli sebelum menuju gerbang istana,
panas dan sesak membuat malas bergerak, kami pun duduk dengan memandangi orang
lalu lalang di hadapan kami. Lalu tiba-tiba Muna memberikan motivasi “Gengg, jangan sampai 500 BTH sia-sia, ayoo
jalan kita harus menghasilkan 100 foto di tempat ini!”. Yak ingat harga
tiket yang cukup mahal untuk kasta budget
traveler, kami langsung
bangkit berdiri dan mulai jeprat jepret sambil mengagumi bangunan di sekitar
kami.
 |
Detil bangunan Wat phra Kaew, ketjeh! |
 |
Tembok dengan lukisan Rama dan Shinta versi Thailand |
Setelah puas berkeliling, kami masuk ke Wat Phra Kaew alias Temple of The Emerald Buddha, disana dilarang
menggunakan alas kaki tapi tenang ada kok rak untuk menaruh alas kakimu. Wuih
masuk ke dalam memang gilaaaa keren banget, patung Buddha Zamrud itu sungguh
memukau. Duh, sayang sekali dilarang mengambil foto di tempat ini, beberapa
wisatawan yang beragama Buddha pun khusyuk berdoa jadi merasakan tenang melihat mereka tunduk berlutut di hadapan Sang
Buddha, jaga sikapmu ketika memasuki tempat ini ya.
 |
Antrian di pintu masuk Wat Phra Kaew |
 |
Pengunjung yang berdoa di kuil sekitar Grand Palace |
 |
Setiap sudut bisa jadi spot foto keren! |
Komentar