Overland Adonara ke Ende
Pertualangan baru di Pulau Flores dimulai saat kami akan melakukan
perjalanan darat dari Flores Timur ke Flores Tengah, aku sudah membayangkan
perjalanan menyenangkan dengan angkutan umum, berbaur bersama warga, udah
berada kayak warga lokal yang sudah tinggal lama, wah pasti seru.
Berhubung angkot menuju pelabuhan pagi-pagi sekali karena mengejar
kapal maka kami sudah bangun subuh waktu itu, di Flores pukul 05.30 wita sudah
terang jadi kalau bangun pukul 07.00 wita kek kesiangan aja gitu. Pukul 07.20
kami dijemput angkot, kali ini kami menuju Pelabuhan Waiwerang, Waiwerang
sendiri adalah salah satu Kelurahan di Adonara dan sekaligus kota terbesar
disana. Sekitar 40 menit kemudian kami tiba di pelabuhan, kebetulan sekali
kapal belum berangkat jadi kami bergegas masuk kapal, kapal akan membawa kami
sekitar 2 jam berlayar di lautan menuju Pelabuhan Larantuka tapi tenang tidak
akan bosan kok, pemandangan lautan biru dengan gunung di pulau-pulau sekitar
akan mengusir suntukmu dalam perjalanan.
Baru saja kapal bertengger di pelabuhan, sudah banyak sekali supir
angkutan umum masuk menawarkan jasanya, iya kita tidak perlu repot pergi ke
terminal, sudah ada bapa-bapa supir angkutan yang berteriak “Maumere Maumere, Nona Maumere Nona, Mama Maumere”.
Awalnya kami bingung kok tidak ada angkutan ke Ende lalu supir angkot bertanya
ke Fina. “Nona, ke Maumere ka?”
“Tidak, ke Ende”, lalu supir langsung menjawab “Iyo
sudah”
“tapi tidak ganti bus kan, om?”
“iya tidak”
Percapakan terakhir semacam persetujuan, kemudian si om membantu
membawakan barang-barang kami eh kami gak bawa barang deng cuma ransel kecil,
hehe berarti barang penumpang lain yang dibawanya.
Keluar dari kapal ternyata masih banyak sekali supir angkot maupun
ojeg yang mencari penumpang, hati-hati ya kalau kalian sudah sepakat menjadi penumpang
dari salah satu supir maka jangan sekali-kali pindah ke lain hati eh angkot
maksudnya karena orang bisa baku pukul gegara rebutan penumpang. Dari pelabuhan
kami diantar dengan angkot menuju tempat bus antar kota mangkal, iya bus antar
kota dilarang masuk pelabuhan jadi biasanya mereka bekerja sama dengan supir
angkot dalam kota, supir bus akan ikut angkot ke pelabuhan untuk mencari
menumpang.
Perjalanan darat dari Larantuka menuju Maumere asoy geboy euy,
meliuk-liuk kek roller coaster raksasa, bah yang tidak biasa perjalanan jauh
mungkin sudah tepar, gimana tidak jalannya mengelilingi gunung tebing dengan
variasi sebelah kanan jurang atau pantai dengan laut biru dan ditempuh dalam
waktu kurang lebih 3,5 jam, asik bukan? Tapi tenang, ditengah perjalanan
tepatnya di Boru, otto akan mampir kok untuk istirahan makan. Yah bisa lega
dikit lah ya, paling enggak 15 menit, haha iya mampirnya emang sebentar, beda
kalau angkutan dari Tanjung ke Banjarmasin yang berhenti minimal 30 menitan :D
Walaupun jalannya asoy geboy tapi aku happy aja naik otto (mobil atau
bus) berdekorasi heboh itu, iya otto antar kota emang unik. Mini bus berwarna
ngejreng dengan interior dalam bus yang ramai dihiasi berbagai aksesori bak
ruang karaoke plus musik dengan pengeras yang bikin budek. Nah akibat sering
naik otto ini lah, aku jadi hapal lagu-lagu timur, hahahaha
Melewati Larantuka sampai Maumere, aku baru sadar rupanya Pulau Flores
gak gersang-gersang amat kok, ada tempat suburnya juga, di beberapa tempat aku
melihat ada sawah hijau membentang kek, ya meskipun memang ada wilayah yang
gersang dan berdebu kayak desa tempat aku tinggal di Adonara tapi gak sedikit
kok yang subuh, bahkan ada yang sangat subur.
Setelah melewati jalan yang berliku, akhirnya kami tiba di Maumere,
entah karena aku agak budek karena musik super nyaring atau aku memang kurang
fokus, serius aku tidak mengerti apa kata om supir lalu Fina keluar aja gitu
dari otto membuat aku semakin bingung. Ternyata setelah aku ikut keluar baru
aku ngeh, om supir tadi bilang begini “Nona, itu otto di belakang langsung ke
Ende” artinya kita disuruh turun lalu naik travel yang sudah menunggu. Serunya
naik angkutan di Flores ya begitu, supir punya jaringan luas jadi kita dicarikan
“tumpangan” menuju tujuan akhir, bukan diturunkan di terminal dan mencari
sendiri kecuali kita request minta turunkan di terminal ya.
Akhirnya berpindahlah kami ke otto kecil, alias mobil. Penumpang hanya
kami berdua, aku agak was-was, jangan-jangan ini hitung rental nih, duh duit
gak cukup. Fina juga gak kalah bingungnya. Yasudah, kita ikut aja dulu urusan
bayar nanti saja deh ya. Om supir isi bbm dulu ke POM, kemudian dia ijin
sebentar ke toilet, katanya perut kurang beres. Kemudian kami menuju arah ke
Larantuka, rupanya menjemput salah satu penumpang jadi kami bertiga menjadi
penumpang. Perjalanan menuju Ende tidak kalah seru, jalannya masih meliuk-liuk
kek ular, aseekk dah. Kebetulan kami berangkat beberapa hari sebelum peringatan
hari kemerdekaan RI jadi perjalanan agak kurang mulus karena sepanjang jalan
ada lomba gerak jalan bahkan di salah satu kecamatan kami benar-benar stuck tidak bisa jalan karena ada pawai
kemerdekaan yang super heboh (Akan ada cerita pengalamanku 17 Agustusan di
Flores)
Karena perjalanan yang sangat panjang, beberapa kali Fina bertanya ke
om supir masih lama kah atau tidak tiba di Ende. Aku pun agak sedikit merasa
kurang beres dengan Fina, kebetulan waktu itu dia sedang gelaja flu, di Boru
tadi saja dia sudah setengah mabok padahal sehari sebelumnya dia mengingatkan
aku agar mempersiapkan mental karena jalannya bisa bikin mabok. Tidak berapa
lama setelah bertanya, Fina tiba-tiba gelisah lalu bergumam “aduh” kemudian
mencari sesuatu di bawah kakinya, ketika aku Tanya “lagi cari apa?”, dia sudah
meraih kresek lalu mulai mengeluarkan isi perutnya lewat mulut, iyaa Fina
mabok. Melihat Fina mabok, om supir berhenti di Wolowaru, kami pun turun lah
mengisi perut, terutama Fina yang isi perutnya sudah habis dikeluarkan.
Perjalanan panjang kami, akhirnya berakhir
setelah dijemput oleh pemilik homestay di cabang tiga jalan menuju Watukara.
Sekitar pukul 20.00 wita kami tiba di homestay, disambut ramah oleh ibu pemilik
homestay dan disajikan cemilan malam, wah gagal diet dah. Haha. Seperti
biasanya, aku selalu wajib mandi sebelum tidur, bayangkan saja perjalanan dari
Maumere ke Waturaka memakan waktu sekitar 5 jam, normalnya sekitar 3 jam saja.
Walaupun air di Watukara dingin, aku tidak peduli tetap mandi demi bisa tidur
pulas malam ini, balas dendam akibat tidak bisa tidur sepanjang jalan.
Komentar