Jangan minta oleh-oleh, itu berat
Halo para tukang jalan, pernah
gak sih kalian pergi traveling terus dititipin oleh-oleh sama temen maupun
keluarga? Gimana perasaannya? Kalau aku sih campur aduk, bingung – sebel –
bete, bingung antara menghemat biaya makan atau biaya transportasi untuk budget
oleh-oleh, sebel kalau titipannya banyak, bete karena harus ngatur ulang
itinenary buat nyari oleh-oleh.
Terus penah gak sih dibilang gini
“Jalan-jalan bisa, tapi bilang gak ada uang beli oleh-oleh” duh aku sih pengen
banget teriak di telinganya, nganaaa pikir jalan-jalan gak pake uang heh! Pake
daun?
Baiklah, bila kalian pernah
mengalami adegan seperti di atas maka kita sama, senasib! Sebagai tukang jalan
minim budget alias tukang jalan kere alias lebih bekennya disebut budget
traveler, aku paling sebel dititipin oleh-oleh baik itu yang nitip uang atau
gak tau malu minta doang. Sebenernya udah banyak tulisan mengenai ini, tapi aku
mau menuangkannya dengan bahasaku. Lewat tulisan ini sebenernya mau ngasih tau
perjuangan kita para tukang jalan minim budget dalam mewujudkan mimpi ke lokasi
liburan.
Sebagai pekerja kantoran, cuti
dan hiburan itu penting banget, nah bagiku hiburan penghilang stress ya dengan
jalan-jalan tapi masalahnya biaya jalan-jalan itu gak semurah bayar parkir di
mall. Oleh karena itu, aku bikin tabungan khusus untuk jalan-jalan dan nilainya
selalu konsisten setiap bulan (kecuali ada biaya tak terduga yang urgent). Nah
kalau sudah kerjaan salah terus artinya sudah stress, aku akan mulai membongkar
tabunganku lalu menentukan pulau yang mau kusambangi terus nyari tau harga
tiket dan biaya hidup disana kemudian mengatur jadwal cuti. Oke, aku tidak akan
bercerita kriteria tempat liburanku maupun tetorial mengajukan cuti agar
diapprove atasan. Aku mau bercerita seberapa niatnya perjuangan kita untuk
mewujudkan jalan-jalan.
Bagi kami tukang jalan minim
budget ini mengumpulkan uang disela-sela pengeluaran bulanan itu berat,
jalan-jalan mesti harus terlaksana tanpa mengganggu kebutuhan wajib bulanan
seperti makan 3 kali sehari, minum, jajan cilok, bayar ini itu atau bahkan
ngirim bulanan ke orang tua. Demi kebutuhan wajib berjalan dengan stabil, kami
harus rela jatah beli baju dikurangin, jatah nongkrong dikurangin, jatah
perawatan diri dan jatah-jatah lain yang bersifat sunnah. Tabungan jalan-jalan
pun dikumpulkan berbulan-bulan bahkan ada yang bertahun-tahun, lalu kemudian
ada orang dengan songgongnya ngatain kita pelit gak mau bawa oleh-oleh, duh mau
tak lempar nasi bungkus berformalin tuh orang biar benjol. Oleh-oleh itu emang
ada yang murah tapi kalau semua orang minta belikan, yaa jadinya menguras
tabungan dong, hiks
Bayangkan saja, seberat itu
perjuangan kami menghemat uang bahkan waktu jalan-jalan aja kami rela
kemana-mana jalan kaki atau makan murah di pinggir jalan asal kenyang cuma demi
bisa masuk wisata popular di tempat yang kami kunjungi. Lalu kemudian uangnya
dihabiskan hanya untuk membeli oleh-oleh temen sekantor, se-RW, se-RT,
se-Kelurahan, se-Kecamatan, duhh apa gak kasian sama kita coba. Terus masa kita
mesti makan 2 kali sehari demi nyisihin duit buat oleh-oleh? Tidaaak, maagku
bisa kambuh sodara-sodara!
Selain itu, oleh-oleh itu sangat
menambah beban, gimana enggak, kalau beli oleh-oleh buat orang se-Kecamatan apa
gak banyak coba? Beraaat cuy, kita aja cuma bawa satu tas ransel supaya muat di
kabin eh oleh-oleh sekardus kulkas. Udah berat kan, ngebebanin kantong pula,
kalau kelebihan bagasi ya duit lagi, huhu. Belum lagi bagi yang jalannya super
minim budget, pake angkutan umum terus pindah-pindah penginapan, masa iya
kardus segede gaban digotong kemana-mana.
Nah ini, yang harus diketahui
bagi si penitipers ya, sebagai karyawan kantoran, kita kan cutinya gak banyak
jadi mesti pinter nyusun itinenary supaya jalan-jalannya berkualitas. Jadi gak
jarang tuh, ada yang jadwalnya puaaadeet pake banget karena dipas-pasin sama
jadwal transportasi umum. Kan kalau budget traveler gitu, transportasi umum
andalannya karena lebih murah. Kalau tetiba ada yang nitip ini itu, ya kita
mesti merombak itinenary dan merelakan beberapa tempat hits terlewatkan demi
pergi ke tempat oleh-oleh yang tidak ada sama sekali di itinenary, kan kalau ke
tempat oleh-oleh gitu perlu waktu yang gak sedikit, hiks
Komentar