Membawa cerita tak terlupakan dari Pura Ulu Watu, Bali

Seperti yang telah aku ceritakan pada artikel sebelum ini, ada sedikit tragedi di Pura Ulu Watu karena ceritanya panjang jadi aku bagikan di artikel terpisah, menurutku sih banyak pengalaman yang layak dibagikan dari cerita ini.

Siang itu kami memasuki kawasan Pura Ulu Watu, melewati hutan kecil yang ribun namun tidak nampak satupun monyet yang menyambut. Sepertinya mereka sedang bersembunyi dari sengat matahari, memang siang itu luar biasa panasnya. Tapi kami tidak kalah dengan panasnya matahari, kami bersemangat membara untuk mengelilingi pura karena cukup luas dan harus menaiki tangga, itak pun memilih untuk menunggu kami di bawah sambil duduk menghadap laut. Kami pun lalu mulai menaiki anak-anak tangga di sebelah kiri pura, cihuuuyy pemandangan cantik memukau mata semakin ke atas semakin banyak pemandangan segar plus bule-bule cakep #eh :p

Kemudian setelah puas jeprat jepret di dekat pura, kami menuruni tangga pada kanan pura yang lain, ditengah perjalanan ada pengumuman dari pengelola.

Perhatian, bagi keluarga Ibu Herlina mohon segera ke loket ditunggu” begitulah kira-kira suara yang keluar dari pengeras suara

Nah, pada asik foto tuh jadi disuruh mamanya pulang” celetuk kakakku
Kami pun terus melanjutkan menyusuri tangga tanpa memperdulikan pengumuman tersebut. Saat berhenti untuk sekedar mengambil foto kembali lagi terdengar informasi dari pengelola

Mohon perhatian bagi keluarga Ibu Herlina ditunggu di loket segera

Tuh belum balik juga, kok bisa kepisah gitu yaa” celetuk kakakku lagi

Ah biarin orang” sahutku cuek
Selesai menuruni tangga, kami kembali ke tempat itak duduk menunggu, eh tapi kok itaknya gak ada. Kami pun kebingungan sambil celingak celinguk lalu seorang ibu menghampiri dengan motornya.

dengan Bapak Bayu?” tanyanya

Iya” jawab sepupuku

ayo, sini naik cepat, dari tadi dipanggil, neneknya digigit monyet” jelas ibu itu dengan tergesa-gesa

hah” kami kaget

astaga, kenapa kok bisa, tadi sih ditinggal itaknya” kakakku super panik

Sepupuku duluan diantar, lalu kemudian kami dijemput lagi oleh ibu yang tadi, kami bergegas pergi ke rumah sakit sambil membawa surat pengantar dari pengelola wisata Pura Ulu Watu. Kami pun bertanya ke itak bagaimana kronologinya bisa digigit monyet.

tadi duduk aja, gak ada ngapain, tiba-tiba monyet datang dari belakang lalu pegang tangan lalu gigit tanganku” jelas itak dengan logat dayaknya yang kental, entah kenapa aku dan Bayu kok malah ketawa mendengar cerita itak, kakakku malah marah mendengar tawa kami pecah

Monyetnya liat kulit itak gelembar gelember, dikiranya makanan pas dipegang lengket jadi digigit sama monyet” canda Bayu, diikuti dengan tawaku yang lepas dan itak pun ikut tertawa

Bayu nih ada-ada aja” jawab kakakku

Lalu tiba-tiba kami sadar, oh jadi tadi yang dipanggil oleh pengelola lewat pengeras suara ya kami ini, haha dasar cucu kurang ajar dan satu pun dari kami tidak ada yang ngeh kalau Herlina itu nama itak. Duh, hikmah dari kejadian ini adalah sungguh sangat perlu mengetahui nama lengkap keluarga terdekat ya gaess.

Dengan membawa selembar kertas pengantar dari pengelola pura, kami bergegas menuju IGD dan perawat pun sigap membantu itak. Luka gigitan monyet tersebut rupanya dalam, itak pun harus pasrah mendapat dapat jahitan pada tangannya. Berhubung stock vaksin di rumah sakit yang kami datangi sedang habis, lalu kami disarankan pergi ke puskesmas dekat RS. Waktu menunjukan pukul 14.00 wita, baru masuk halaman puskesmas, seorang petugas langsung menghampiri kami dan mengarahkan ke ruang dokter. Pelayanan puskesmas ini memang bagus plus petugasnya ramah padahal sebentar lagi puskesmasnya tutup, beda sama puskesmas di kampungku, kalau sudah mendekati jam pulang pasti para petugasnya pada hilang. Untungnya itak kuat, bukannya merasa kesakitan, beliau malah santai saja dan ikut tertawa bersama kami selama perjalanan malahan itak ngajak lanjut jalan ke mall, set dah malah kita semua yang tepar, wkwkwk
 
Rupanya sebelum itak, juga ada beberapa pengunjung yang digigit monyet namun tidak perlu khawatir pengelola akan membantu pengunjung yang mengalami cidera seperti yang dialami itak, prosesnya pun tidak ribet malah sangat mudah. Waktu mengambil obat di apotek, apoketernya menerka kalau itak disamperin monyet karena tasnya yang berwarna-warni, memang sih waktu itu itak menggunakan tas berwarna hijau-merah. Berkunjung ke Pura Ulu Watu harus dan kudu hati-hati ya, jangan pernah menggunakan kalung, cincin, jam tangan, gelang, atau apapun yang menarik perhatian monyet. Jangan menggoyang-goyangkan barang bawaan kita karena bisa langsung diserbu monyet dan juga jangan menggunakan pakaian maupun tas yang warnanya mencolok serta jangan pernah berpisah sendiri-sendiri, jika teman atau keluarga kalian sudah lelah berjalan dan memilih untuk menunggu sebaiknya menunggu di area parkiran, selain lebih aman juga banyak warung untuk sekedar menghilangkan dahaga. Monyet di Pura Ulu Watu agak nakal jadi harus jaga diri, mereka agak agresif jika melihat ada barang yang bisa dicuri dari pengunjung tapi walaupun monyet disana nakal, jangan takut mengunjungi Pura Ulu Watu yang menawan. Rugi kalau ke Bali tidak menikmati hutan dan laut di sekitar Pura Ulu Watu serta menikmati sunset dengan tarian kecak :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budget Liburan ke Bangkok, Thailand

Parasit pada Ikan yang Mirip tapi Tidak Kembar (Zoothamnium, Epistylis dan Vorticella)

Serunya masuk dalam novel Laskar Pelangi di Belitung Timur