Hari Ibu untuk Anak Kelas 3 SD

Baiklah kali ini adalah kisaah nyata dan tidak mengada-ada, kali ini asli saya alami sendiri dan bukan mengutip pengalaman orang atau menyalin apa yang telah saya amati.
Ini nyata sekali lagi nyata, baiklah saya tegaskan sekali lagi "ini nyata" :D

Saat itu tanggal 26 Desember 2011, saya dikejutkan dengan tingkah keponakan saya (Vani) yang masih duduk di kelas 3 SD. Senyum menghiasi wajahnya saat itu, pokoknya sok manis sekali dan dia berkata "aku sudah bawa kadonya te" tapi saya hanya menjawab dengan singkat serta tanpa ekspresi "ya". Memang sebelumnya malam tanggal 24, anak itu bercerita kalau kadonya tertinggal di Laci mejanya di sekolah. Selanjutnya dia menyambung jawaban saya yang singkat itu dengan pernyataan "tapi te, aku supan kasih mamah kadonya, ah kada usah gin te lah aku kasih mamah" (Indo# Tapi te, aku malu kasih mamah kadonya, ah ga jadi deh aku kasih mamah), otak saya pun mencerna kata-kata keponakan saya ini lalu spontan saya bertanya "haa, kado buat apa? mamahmu belum ulang tahun". Dia menjawab dengan polos "Ini kado hari ibu te lain (Indo# bukan) kado ulang tahun", kemudian saya pun menganga lebar dan bertanya-tanya dalam hati "kado hari ibu????" dan saya lalu lari mencari kakak saya dan berkata "apeeeeiiiii, vani punya kado buatmu, kado hari ibu". Dari yang saya liat sepertinya kakak saya memasang wajah tidak percaya dan bingung "mana kadonya vanii?", keponakan saya menjawab dengan wajah polos "kada jadi mah (Indo# ga jadi), hehe" tapi dengan cekatan sang adik (Dante) mencari kadonya dan menyerahkannya kepada ibunya. Lalu apaa yang terjadi? keponakanya saya, Vani menangis sejadi-jadinya karena dia tidak mau memberi kadonya seperti yang dia katakan kalau dia malu sebab kadonya kecil dan tidak berharga menurutnya.

Saya sungguh tidak menyangka ternyata keponakan saya yang nakal, tidak penurut, keras kepala, dan menyebalkan itu sangat unyu-unyu sekali hari ini, saya sekeluarga pun dibuat terkejut dan sangat menghargai niat anak kecil ini. Sungguh saya sangat terharu sekali, kado itu dibuatnya pada hari Ibu, 22 Desember 2011 dan dia pun menyimpannya untuk diberikan kepada ibunya karena dia bertemu dengan ibunya hanya pada saat ibunya cuti. Sebuah kipas plastik sederhana yang dibelinya dengan uang jajannya dibungkus seadanya dengan kertas kado bermotif dan di atas kertas kado itu tertulis tulisan anak kelas 3 SD yang kurang rapi "Untuk: Ibu yang aku sayangi" dan tulisan itu dihias dengan gambar balon-balon terbang, tidak disangka anak kecil yang keras kepala ini pun sangat mengasihi ibunya, walau jauh dari sang ibu dia tetap ingat akan berartinya ibu baginya. Satu lagi yang membuat kami terharu, kado itu dipersiapkan atas niatnya sendiri tanpa ada suruhan dari guru, atau yang lain.

Bagaimana dengan anda? Apakah mau kalah dengan anak SD ini yang telah memberikan bentuk sayangnya kepada ibunya?


#Ini adalah lanjutan cerita di atas, cerita ini cukup menggelitik..
Setelah melihat sang kakak memberikan kado untuk ibunya, sang adik pun tidak mau kalah. Dia pun memberikan kado untuk ibunya. Siang itu dia mengambil wafer yang ada di dapur dan membungkusnya dengan kertas polos, lalu dia menghampiri sang ibu kemudian berkata "ini kadoku buat mamah" sambil melontarkan senyum manisnya yang polos..
Entah kenapa setelah melihat ketulusan 2 keponakanku ini, aku merasa bangga kepada 2 keponakanku yang kadang menyebalkan itu :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budget Liburan ke Bangkok, Thailand

Parasit pada Ikan yang Mirip tapi Tidak Kembar (Zoothamnium, Epistylis dan Vorticella)

Serunya masuk dalam novel Laskar Pelangi di Belitung Timur